Posting Terbaru :

Eva yang seksi

Written By detikberita.com on Jumat, 20 Januari 2012 | 14.59


Cewek Pamer Pantat Montok dan Mulus


Pramugari Cantik yang Butuh Kehangatan

Yenita Cewek Bertoket Indah dan Montok




Tubuh Montok Penyanyi Dangdut




6 Kesalahan Saat Bercinta

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan, yang bisa bikin mood bercinta lenyap.

Saat bercinta adalah saat intim dalam sebuah hubungan. Tentunya Anda ingin kegiatan bercinta berjalan mulus dan bisa memuaskan satu sama lain. Tetapi seringkali suasana bercinta yang intim, rusak karena kesalahan yang tidak disadari baik oleh Anda maupun pasangan.

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan dan membuat mood bercinta menghilang. Anda tentu tidak ingin hal itu terjadi. Untuk itu ketahui kesalahan apa saja yang sering tidak disadari saat bercinta, agar Anda tidak melakukannya.

1. Melewatkan aksi ciuman
Jangan biarkan bercinta seperti kegiatan rutin dan otomatis, yang bisa dilakukan tanpa saling berciuman. Meskipun Anda sudah hidup bersama sebagai pasangan, jangan melewatkan berciuman. Saling mencium bisa menjadi foreplay yang seru dan hangat. Suasana bercinta pun menjadi sangat intim. Berikanlah ia ciuman hangat, dan jangan buat kegiatan bercinta menjadi hal rutin semata.

2. Posisi yang selalu sama
Jangan selalu berada dalam posisi yang sama saat bercinta. Hal itu akan memicu rasa bosan baik Anda maupun pasangan. Meskipun dalam posisi tersebut Anda selalu mendapatkan kepuasan, cobalah untuk mencoba posisi baru. Bujuk pasangan untuk mencoba gaya bercinta yang belum pernah dicoba. Tidak masalah jika Anda atau pasangan tidak mencapai orgasme, yang penting suasana bercinta menjadi seru dan tidak monoton. Anda bisa mencari tahu melalui buku atau DVD.

3. Tidak ada kejutan
Jangan biarkan suasana bercinta monoton. Buatlah hal baru, dan salah satunya adalah dengan cara memberikan kejutan seksi pada pasangan. Kejutan bisa menjadi hal yang seru dan membuat suasana baru pada kegiatan bercinta Anda. Sesekali kirimlah sms "nakal" atau telepon pasangan dengan nada manja. Saat ia pulang ke rumah sambutlah dengan menggunakan lingerie seksi. Jika Anda tidak biasa melakukannya pasti pasangan akan merasa terkejut sekaligus senang. Ia pun pasti berencana untuk "membalas" kejutan yang Anda berikan.

4. Terlalu banyak bicara
Meskipun dalam bercinta membutuhkan komunikasi tetapi bukan berarti Anda bisa banyak bicara apalagi melontarkan "perintah". Jika ingin posisi pasangan sesuai keinginan Anda lebih baik tuntun dia, jangan "menyuruhnya". Melontarkan pertanyaan seperti "posisi mana yang kamu suka?" lebih baik dari pada "lakukan ini" atau "lakukan itu". Jika memang Anda ingin menuntunnya dengan kata-kata berbisiklah dengan mesra di telinganya.

5. Sedang tidak mood
Terpaksa bercinta padahal mood sedang tidak baik, sering dilakukan banyak wanita. Hal itu kerpa dilakukan karena tidak ingin mengecewakan pasangan. Jika Anda dalam posisi demikian, mood sedang tidak baik, tubuh lelah atau sedang sakit berkatalah sejujurnya pada pasangan. Ungkapkanlah dengan tidak menyinggung hatinya.

6. Bercinta tanpa cahaya
Bentuk tubuh yang tidak sempurna bukan berarti Anda harus menutupinya dengan selalu bercinta tanpa cahaya. Jika Anda melakukannya berarti Anda belum nyaman berada didekatnya. Sesekali cobalah foreplay, mengeksplorasi tubuh masing-masing dengan cahaya yang cukup te
rang.

Cewek Centil Ayam Kampus



Linda, ABG Seksi



[Cerita Panas] Pembantuku yang lugu

Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Sebetulnya aku sudah menikah, bahkan rasanya istriku tahu akan hobiku mencari daun-daun muda untuk “obat awet muda”. Dan memang pekerjaanku menunjang untuk itu, baik dari segi koneksi maupun dari segi finansial. Namun semenjak istriku tahu aku memiliki banyak sekali simpanan, suatu hari ia meninggalkanku tanpa pamit. Biarlah, malah aku bisa lebih bebas menyalurkan hasrat.

Karena pembantu yang lama keluar untuk kawin di desanya, aku terpaksa mencari penggantinya di agen. Bukan saja karena berbagai pekerjaan rumah terbengkalai, juga rasanya kehilangan “obat stress”. Salah seorang calon yang menarik perhatianku bernama Ningsih, baru berusia (hampir) 16 tahun, berwajah cukup manis, dengan lesung pipit. Matanya sedikit sayu dan bibirnya kecil seksi. Seandainya kulitnya tidak sawo matang (meskipun bersih dan mulus juga), dia sudah mirip-mirip artis sinetron. Meskipun mungil, bodinya padat, dan yang terpenting, dari sikapnya aku yakin pengalaman gadis itu tidak sepolos wajahnya. Tanpa banyak tanya, langsung dia kuterima.

Dan setelah beberapa hari, terbukti Ningsih memang cukup cekatan mengurus rumah. Namun beberapa kali pula aku memergokinya sedang sibuk di dapur dengan mengenakan kaos ketat dan rok yang sangat mini. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, aku mendekat dari belakang dan kucubit paha gadis itu. Ningsih terpekik kaget, namun setelah sadar majikannya yang berdiri di belakangnya, ia hanya merengut manja.

Sore ini sepulang kerja aku kembali dibuat melotot disuguhi pemandangan yang ‘menegangkan’ saat Ningsih yang hanya berdaster tipis menungging sedang mengepel lantai, pantatnya yang montok bergoyang kiri-kanan. Tampak garis celana dalamnya membayang di balik dasternya. Tidak tahan membiarkan pantat seseksi itu, kutepuk pantat Ningsih keras-keras.

“Ngepel atau nyanyi dangdut sih? Goyangnya kok merangsang sekali!” Ningsih terkikik geli mendengar komentarku, dan kembali meneruskan pekerjaannya. Dengan sengaja pantatnya malah digoyang semakin keras.

Geli melihat tingkah Ningsih, kupegang pantat gadis itu kuat-kuat untuk menahan goyangannya. Saat Ningsih tertawa cekikikan, jempolku sengaja mengelus selangkangan gadis itu, menghentikan tawanya. Karena diam saja, perlahan kuelus paha Ningsih ke atas, menyingkapkan ujung dasternya.”Eh… Ndoro… jangan..!” cegah Ningsih lirih.
“Nggak pa-pa, nggak usah takut, Nduk..!”
“Jangan, Ndoro… malu… jangan sekarang..!”
Dengan tergesa Ningsih bangkit membereskan ember dan kain pel, lalu bergegas menuju ke dapur.

Malam harinya lewat intercom aku memanggil Ningsih untuk memijat punggungku yang pegal. Seharian penuh bersidang memang membutuhkan stamina yang prima. Agar tenagaku pulih untuk keperluan besok, tidak ada salahnya memberi pengalaman pada orang baru.

Gadis itu muncul masih dengan daster merah tipisnya sambil membawa minyak gosok. Ningsih duduk di atas ranjang di sebelah tubuhku.
Sementara jemari lentik Ningsih memijati punggung, kutanya, “Nduk, kamu sudah punya pacar belum..?”
“Disini belum Ndoro…” jawab gadis itu.
“Disini belum..? Berarti di luar sini sudah..?”
Sambil tertawa malu-malu gadis itu menjawab lagi, “Dulu di desa saya pernah, tapi sudah saya putus.”
“Lho, kenapa..?”
“Habis mau enaknya saja dia.”
“Mau enaknya saja gimana..?” kejarku.
“Eh… itu, ya… maunya ngajak gituan terus, tapi kalau diajak kawin nggak mau.”

Aku membalikkan badan agar dadaku juga turut dipijat.
“Gituan gimana? Memangnya kamu nggak suka..?”
Wajah Ningsih memerah, “Ya… itu… ngajak kelonan… tidur telanjang bareng…”
“Kamu mau aja..?”
“Ih, enggak! Kalau cuma disuruh ngemut burungnya saja sih nggak pa-pa. Mau sampai selesai juga boleh. Tapi yang lain Ningsih nggak mau..!”
Aku tertawa, “Lha apa nggak belepotan..?”
“Ah, enggak. Yang penting Ningsih juga puas tapi tetep perawan.”

Aku semakin terbahak, “Kalau kamu juga puas, terus kenapa diputus..?”
“Abis lama-lama Ningsih kesel! Ningsih kalau diajak macem-macem mau, tapi dia diajak kawin malah main mata sama cewek lain! Untung Ningsih cuma kasih emut aja, jadi sampai sekarang Ningsih masih perawan.”
“Main emut terus gitu apa kamu nggak pengin nyoba yang beneran..?” godaku.
Wajah Ningsih kembali memerah, “Eh… katanya sakit ya Ndoro..? Terus bisa hamil..?”

Kini Ningsih berlutut mengangkangi tubuhku sambil menggosokkan minyak ke perutku. Saat gadis itu sedikit membungkuk, dari balik dasternya yang longgar tampak belahan buah dadanya yang montok alami tanpa penopang apapun.
Sambil tanganku mengelus-elus kedua paha Ningsih yang terkangkang, aku menggoda, “Kalau sama Ndoro, Ningsih ngasih yang beneran atau cuma diemut..?”
Pipi Ningsih kini merah padam, “Mmm… memangnya Ndoro mau sama Ningsih? Ningsih kan cuma pembantu? Cuma pelayan?”
“Nah ini namanya juga melayani. Iya nggak?”
Ningsih hanya tersenyum malu.

“Aaah! Itu kan cuma jabatan. Yang penting kan orangnya..!”
“Ehm.., kalau hamil gimana..?”
“Jangan takut Nduk, kalau cuma sekali nggak bakalan hamil. Nanti Ndoro yang tanggung jawab..”
Meskipun sedikit ragu dan malu, Ningsih menuruti dan menanggalkan dasternya.

Sambil meletakkan pantatnya di atas pahaku, gadis itu dengan tersipu menyilangkan tangannya untuk menutupi kemontokan kedua payudaranya. Untuk beberapa saat aku memuaskan mata memandangi tubuh montok yang nyaris telanjang, sementara Ningsih dengan jengah membuang wajah. Dengan tidak sabaran kutarik pinggang Ningsih yang meliuk mulus agar ia berbaring di sisiku.

Seumur hidup mungkin baru sekali ini Ningsih merasakan berbaring di atas kasur seempuk ini. Langsung saja kusergap gadis itu, kuciumi bibirnya yang tersenyum malu, pipinya yang lesung pipit, menggerayangi sekujur tubuhnya dan meremas-remas kedua payudaranya yang kenyal menggiurkan. Puting susunya yang kemerahan terasa keras mengacung. Kedua payudara gadis itu tidak terlalu besar, namun montok pas segenggaman tangan. Dan kedua bukit itu berdiri tegak menantang, tidak menggantung. Gadis desa ini memang sedang ranum-ranumnya, siap untuk dipetik dan dinikmati.

“Mmmhh… Oh! Ahhh! Oh… Ndorooo… eh.. mmm… burungnya… mau Ningsih emut dulu nggak..?” tanya gadis itu diantara nafasnya yang terengah-engah.
“Lepas dulu celana dalam kamu Nduk, baru kamu boleh emut.”
Tersipu Ningsih bangkit, lalu memelorotkan celana dalamnya hingga kini gadis itu telanjang bulat. Perlahan Ningsih berlutut di sisiku, meraih kejantananku dan mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Sambil menyibakkan rambutnya, gadis itu sedikit terbelalak melihat besarnya kejantananku. Mungkin ia membayangkan bagaimana benda berotot sebesar itu dapat masuk di tubuhnya.

Aku segera merasakan sensasi yang luar biasa ketika Ningsih mulai mengulum kejantananku, memainkan lidahnya dan menghisap dengan mulut mungilnya sampai pipinya ‘kempot’. Gadis ini ternyata pintar membuat kejantananku cepat gagah.
“Ehm… srrrp… mmm… crup! Ahmm… mmm… mmmh..! Nggolo (ndoro)..! Hangang keyas-keyas (jangan keras-keras)..! Srrrp..!”
Gadis itu tergeliat dan memprotes ketika aku meraih payudaranya yang montok dan meremasinya. Namun aku tak perduli, bahkan tangan kananku kini mengelus belahan pantat Ningsih yang bulat penuh, terus turun sampai ke bibir kemaluannya yang masih jarang-jarang rambutnya. Maklum, masih perawan.

Gadis itu tergelinjang tanpa berani bersuara ketika jemariku menyibakkan bibir kemaluannya dan menelusup dalam kemaluannya yang masih perawan. Merasa kejantananku sudah cukup gagah, kusuruh Ningsih mengambil pisau cukur di atas meja, lalu kembali ke atas ranjang. Tersipu-sipu gadis perawan itu mengambil bantal berusaha untuk menutupi ketelanjangannya.

Malu-malu gadis itu menuruti perintah majikannya berbaring telentang menekuk lutut dan merenggangkan pahanya, mempertontonkan rambut kemaluannya yang hanya sedikit. Tanpa menggunakan foam, langsung kucukur habis rambut di selangkangan gadis itu, membuat Ningsih tergelinjang karena perih tanpa berani menolak. Kini bibir kemaluan Ningsih mulus kemerahmerahan seperti kemaluan seorang gadis yang belum cukup umur, namun dengan payudara yang kencang.

Dengan sigap aku menindih tubuh montok menggiurkan yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun itu. Tersipu-sipu Ningsih membuang wajah dan menutupi payudaranya dengan telapak tangan. Namun segera kutarik kedua tangan Ningsih ke atas kepalanya, lalu menyibakkan paha gadis itu yang sudah mengangkang. Pasrah Ningsih memejamkan mata menantikan saatnya mempersembahkan keperawanannya.

Gadis itu menahan nafas dan menggigit bibir saat jemariku mempermainkan bibir kemaluannya yang basah terangsang. Perlahan kedua paha mulus Ningsih terkangkang semakin lebar. Aku menyapukan ujung kejantananku pada bibir kemaluan gadis itu, membuat nafasnya semakin memburu. Perlahan tapi pasti, kejantananku menerobos masuk ke dalam kehangatan tubuh perawan Ningsih. Ketika selaput dara gadis manis itu sedikit menghalangi, dengan perkasa kudorong terus, sampai ujung kejantananku menyodok dasar liang kemaluan Ningsih. Ternyata kemaluan gadis ini kecil dan sangat dangkal. Kejantananku hanya dapat masuk seluruhnya dalam kehangatan keperawanannya bila didorong cukup kuat sampai menekan dasar kemaluannya. Itu pun segera terdesak keluar lagi.

Ningsih terpekik sambil tergeliat merasakan pedih menyengat di selangkangannya saat kurenggutkan keperawanan yang selama ini telah dijaganya baik-baik. Tapi gadis itu hanya berani meremas-remas bantal di kepalanya sambil menggigit bibir menahan sakit. Air mata gadis itu tak terasa menitik dari sudut mata, mengaburkan pandangannya. Ningsih merintih kesakitan ketika aku mulai bergerak menikmati kehangatan kemaluannya yang serasa ‘megap-megap’ dijejali benda sebesar itu. Namun rasa sakit dan pedih di selangkangannya perlahan tertutup oleh sensasi geli-geli nikmat yang luar biasa.

Tiap kali kejantananku menekan dasar kemaluannya, gadis itu tergelinjang oleh ngilu bercampur nikmat yang belum pernah dirasakannya. Kejantananku bagai diremas-remas dalam liang kemaluan Ningsih yang begitu ‘peret’ dan legit. Dengan perkasa kudorong kejantananku sampai masuk seluruhnya dalam selangkangan gadis itu, membuat Ningsih tergelinjang-gelinjang sambil merintih nikmat tiap kali dasar kemaluannya disodok.

“Ahh… Ndoro..! Aa… ah..! Aaa… ahk..! Oooh..! Ndorooo… Ningsih pengen… pih… pipiiis..!
Aaa… aahh..!”
Sensasi nikmat luar biasa membuat Ningsih dengan cepat terorgasme.
“Tahan Nduk! Kamu nggak boleh pipis dulu..! Tunggu Ndoro pipisin kamu, baru kamu boleh pipis..!”
Dengan patuh Ningsih mengencangkan otot selangkangannya sekuat tenaga berusaha menahan pipis, kepalanya menggeleng-geleng dengan mata terpejam, membuat rambutnya berantakan, namun beberapa saat kemudian…
“Nggak tahan Ndorooo..! Ngh…! Ngh…! Ngggh! Aaaiii… iik..! Aaa… aaahk..!” Tanpa dapat ditahan-tahan, Ningsih tergelinjang-gelinjang di bawah tindihanku sambil memekik dengan nafas tersengal-sengal.
Payudaranya yang bulat dan kenyal berguncang menekan dadaku saat gadis itu memeluk erat tubuh majikannya, dan kemaluannya yang begitu rapat bergerak mencucup-cucup.

Berpura-pura marah, aku menghentikan genjotannya dan menarik kejantananku keluar dari tubuh Ningsih.
“Dibilang jangan pipis dulu kok bandel..! Awas kalau berani pipis lagi..!” Tampak kejantananku bersimbah cairan bening bercampur kemerahan, tanda gadis itu betul-betul masih perawan. Gadis itu mengira majikannya sudah selesai, memejamkan mata sambil tersenyum puas dan mengatur nafasnya yang ‘senen-kamis’. Di pangkal paha gadis itu tampak juga darah perawan menitik dari bibir kemaluannya yang perlahan menutup.

Aku menarik pinggang Ningsih ke atas, lalu mendorong sebuah bantal empuk ke bawah pantat Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu agak melengkung karena pantatnya diganjal bantal. Tanpa basa-basi kembali kutindih tubuh montok Ningsih, dan kembali kutancapkan kejantananku dalam liang kemaluan gadis itu. Dengan posisi pantat terganjal, klentit Ningsih yang peka menjadi sedikit mendongak. Sehingga ketika aku kembali melanjutkan tusukanku, gadis itu tergelinjang dan terpekik merasakan sensasi yang bahkan lebih nikmat lagi dari yang barusan.

“Mau terus apa brenti, Nduk..?” godaku.
“Aii… iih..! He.. eh..! Terus Ndorooo..! Enak..! Enak..! Aahh… Aiii… iik..!”
Tubuh Ningsih yang montok menggiurkan tergelinjang-gelinjang dengan nikmat dengan nafas tersengal-sengal diantara pekikan-pekikan manjanya.
“Ooo… ohh..! Ndoroo.., Ningsih pengen pipis.. lagiii… iih..!”
“Yang ini ditahan dulu..! Tahan Nduk..!”
“Aa.. aak..! Ampuuu… unnhh..! Ningsih nggak kuat… Ndorooo..!”
Seiring pekikan manjanya, tubuh gadis itu tergeliat-geliat di atas ranjang empuk.

Pekikan manja Ningsih semakin keras setiap kali tubuh telanjangnya tergerinjal saat kusodok dasar liang kegadisannya, membuat kedua pahanya tersentak mengangkang semakin lebar, semakin mempermudah aku menikmati tubuh perawannya. Dengan gemas sekuat tenaga kuremas-remas kedua payudara Ningsih hingga tampak berbekas kemerah-merahan. Begitu kuatnya remasanku hingga cairan putih susu menitik keluar dari putingnya yang kecoklatan.
“Ahhhk..! Aaa.. aah! Aduu.. uhh! Sakit Ndorooo..! Ningsih mau pipiiiiss..!”

Dengan maksud menggoda gadis itu, aku menghentikan sodokannya dan mencabut kejantanannya justru disaat Ningsih mulai orgasme.
“Mau pipis Nduk..?” tanyaku pura-pura kesal.
“Oohh… Ndorooo… terusin dong..! Cuma ‘dikit, nggak pa-pa kok..!” rengek gadis itu manja.
“Kamu itu nggak boleh pipis sebelum Ndoro pipisin kamu, tahu..?” aku terus berpura-pura marah.
Tampak bibir kemaluan Ningsih yang gundul kini kemerah-merahan dan bergerak berdenyut.
“Enggak! Enggak kok! Ningsih enggak berani Ndoro..!”

Ningsih memeluk dan berusaha menarik tubuhku agar kembali menindih tubuhnya. Rasanya sebentar lagi gadis itu mau pipis untuk ketiga kalinya.
“Kalau sampai pipis lagi, Ndoro bakal marah, lho Nduk..?” kuremas kedua buah dada montok Ningsih.
“Engh… Enggak. Nggak berani.” Wajah gadis itu berkerut menahan pipis.
“Awas kalau berani..!” kukeraskan cengkeraman tangannya hingga payudara gadis itu seperti balon melotot dan cairan putih susu kembali menetes dari putingnya.

“Ahk! Aah..! Nggak berani, Ndoro..!”
Ningsih menggigit bibir menahan sakitnya remasan-remasanku yang bukannya dilepas malah semakin kuat dan cepat. Namun gadis itu segera merasakan ganjarannya saat kejantananku kembali menghajar kemaluannya. Tak ayal lagi, Ningsih kembali tergiur tanpa ampun begitu dasar liang kemaluannya ditekan kuat.
“Ngh..! Ngh..! Nggghhh..! Ahk… Aaa… aahhh..! Ndorooo… ampuuu… uun..!”
Tubuh montok gadis itu tergerinjal seiring pekikan manjanya.

Begitu cepatnya Ningsih mencapai puncak membuat aku semakin gemas menggeluti tubuh perawannya. Tanpa ampun kucengkeram kedua bukit montok yang berdiri menantang di hadapanku dan meremasinya dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit payudara Ningsih. Sementara genjotan demi genjotan kejantananku menyodok kemaluan gadis itu yang hangat mencucup-cucup menggiurkan, bagai memohon semburan puncak.

Gadis itu sendiri sudah tak tahu lagi mana atas mana bawah, kenikmatan luar biasa tidak henti-hentinya memancar dari selangkangannya. Rasanya seperti ingin pipis tapi nikmat luar biasa membuat Ningsih tidak sadar memekik-mekik manja. Kedua pahanya yang sehari-hari biasanya disilangkan rapat-rapat, kini terkangkang lebar, sementara liang kemaluannya tanpa dapat ditahan-tahan berdenyut mencucup kejantananku yang begitu perkasa menggagahinya. Sekujur tubuh gadis itu basah bersimbah keringat.

“Hih! Rasain! Dibilang jangan pipis! Mau ngelawan ya..!” Gemas kucengkeram kedua buah dada Ningsih erat-erat sambil menghentakkan kejantananku sejauh mungkin dalam kemaluan dangkal gadis itu.
Ningsih tergelinjang-gelinjang tidak berdaya tiap kali dasar kemaluannya disodok. Pantat gadis itu yang terganjal bantal empuk berulangkali tersentak naik menahan nikmat.
“Oooh… Ndorooo..! Ahk..! Ampun..! Ampun Ndoroo..! Sudah..! Ampuuu.. unn..!” Ningsih merintih memohon ampun tidak sanggup lagi merasakan kegiuran yang tidak kunjung reda.

Begitu lama majikannya menggagahinya, seolah tidak akan pernah selesai. Tidak terasa air matanya kembali berlinang membasahi pipinya. Kedua tangan gadis itu menggapai-gapai tanpa daya, paha mulusnya tersentak terkangkang tiap kali kemaluannya dijejali kejantananku, nafasnya tersengal dan terputus-putus. Bagian dalam tubuhnya terasa ngilu disodok tanpa henti. Putus asa Ningsih merengek memohon ampun, majikannya bagai tak kenal lelah terus menggagahi kegadisannya. Bagi gadis itu seperti bertahun-tahun ia telah melayani majikannya dengan pasrah.

Menyadari kini Ningsih sedang terorgasme berkepanjangan, aku tarik paha Ningsih ke atas hingga menyentuh payudaranya dan merapatkannya. Akibatnya kemaluan gadis itu menjadi semakin sempit menjepit kejantananku yang terus menghentak keluar masuk. Ningsih berusaha kembali mengangkang, namun dengan perkasa semakin kurapatkan kedua paha mulusnya. Mata Ningsih yang bulat terbeliak dan berputar-putar, sedangkan bibirnya merah merekah membentuk huruf ‘O’ tanpa ada suara yang keluar. Sensasi antara pedih dan nikmat yang luar biasa di selangkangannya kini semakin menjadi-jadi.

Aku semakin bersemangat menggenjotkan kejantananku dalam hangatnya cengkeraman pangkal paha Ningsih, membuat gadis itu terpekik-pekik nikmat dengan tubuh terdorong menyentak ke atas tiap kali kemaluannya disodok keras.
“Hih! Rasain! Rasain! Nih! Nih! Nihh..!” aku semakin geram merasakan kemaluan Ningsih yang begitu sempit dan dangkal seperti mencucup-cucup kejantananku.
“Ahh..! Ampuuu…uun… ampun… Ndoro! Aduh… sakiit… ampuuu… un..!”

Begitu merasakan kenikmatan mulai memuncak, dengan gemas kuremas kedua payudara Ningsih yang kemerah-merahan berkilat bersimbah keringat dan cairan putih dari putingnya, menumpukan seluruh berat tubuhku pada tubuh gadis itu dengan kedua paha gadis itu terjepit di antara tubuh kami, membuat tubuh Ningsih melesak dalam empuknya ranjang.

Pekikan tertahan gadis itu, gelinjangan tubuhnya yang padat telanjang dan ‘peret’-nya kemaluannya yang masih perawan membuatku semakin hebat menggeluti gadis itu.
“Aduh! Aduu… uuhh… sakit Ndoro! Aaah… aaamm… aaammpuuun… ampuuu… uun Ndoro..
Ningsih… pipiiii… iiis! Aaammm… puuun..!”
Dan akhirnya kuhujamkan kejantananku sedalam-dalamnya memenuhi kemaluan Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu terlonjak dalam tindihanku, namun tertahan oleh cengkeraman tanganku pada kedua buah dada Ningsih yang halus mulus.

Tanpa dapat kutahan, kusemburkan sperma dalam cucupan kemaluan Ningsih yang hangat menggiurkan sambil dengan sekuat tenaga meremas-remas kedua buah dada gadis itu, membuat Ningsih tergerinjal antara sakit dan nikmat.
“Ahk! Auh..! Aaa… aauuhh! Oh… ampuuu…uun Ndoro! Terus Ndoro..! Ampuuun! Amm… mmh..! Aaa… aaakh..!”

Dengan puas aku menjatuhkan tubuh di sisi tubuh Ningsih yang sintal, membuat gadis itu turut terguling ke samping, namun kemudian gadis itu memeluk tubuhku. Sambil terisak-isak bahagia, Ningsih memeluk tubuhku dan mengelus-elus punggungku.

Sambil mengatur nafas, aku berpikir untuk menaikkan gaji Ningsih beberapa kali lipat, agar gadis itu betah bekerja di sini, dan dapat melayaniku setiap saat. Dengan tubuh yang masih gemetar dan lemas, Ningsih perlahan turun dari ranjang dan mulai melompat-lompat di samping ranjang.
Keheranan aku bertanya, “Ngapain kamu, Nduk..?”
“Katanya… biar nggak hamil harus lompat.. lompat, Ndoro..” jawab gadis itu polos.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya, melihat cairan kental meleleh dari pangkal paha gadis itu yang mulus tanpa sehelai rambut pun

Bispak Seksi Bertubuh Mulus


[Cerita Panas] Sahabat Pacarku

Written By detikberita.com on Kamis, 19 Januari 2012 | 21.59

Cerita Sex 17plus - Aku bernama Tommy, seorang Suplier bidang komputer, lulusan sekolah komputer terkenal di kota S**** (edited). Ketika aku masih kuliah dulu, aku berkenalan dengan seorang gadis, namanya Diah. Rupanya Diah saat itu masih sekolah di sebuah akademi perawat. Singkatnya, kami mulai pacaran sejak satu tahun yang lalu. Pacaran kami tergolong seru, dapat dikatakan menjurus nudies alias pornografi, tetapi itu tidak kuceritakan (off the record.. hehehe).

Pacarku itu tinggal di asrama perawat bersama teman satu pendidikannya. Wah.. mulus-mulus tubuh mereka semua, maklum sekolah perawat, jadi body-nya mungkin juga dirawat. Yang jadi pikiranku sekarang ini adalah sahabat dari pacarku itu. Begini ceritanya, pacarku kan punya sahabat, namanya Wulan, orangnya cantik juga sih. Ketika Diah pulang kampung ke Jawa Tengah, si Wulan datang ke tempat kostku. Seperti biasa, Wulan sudah terbiasa dengan keadaan kamarku yang seperti selesai perang, berantakan sekali, hehehehe. Berhubung dia itu sahabat dari pacarku, jadi kusambut dengan ramah.

Kami bercerita panjang lebar sambil duduk di atas kasur. Seperti seorang sahabat, kami saling bercanda. Suatu ketika, Wulan terdiam termenung. Aku heran, kutanyakan mengapa dia tiba-tiba terdiam seperti bersedih. Wulan dengan perlahan sekali bercerita bahwa jika dia selesai dalam pendidikan perawatnya ini, dia akan dinikahkan oleh seorang yang belum sama sekali dikenalnya. Melihat dia mulai menangis, aku berusaha menghiburnya dan berkata bijaksana. Tetapi malah membuat dia lebih keras menangis.

Perlahan dia berkata, "Tom, sebenarnya saya sayang kamu.."
Wulan tertunduk, "Maafkan saya Tom.." lanjutnya.
Aduh, aku bingung harus menjawab bagaimana. Sementara aku terdiam, Wulan memelukku. Tubuhnya yang harum dan kulitnya yang halus menyengat isi kepalaku. Aku berusaha tetap tenang dan mengingat bahwa dia ini sahabat dari pacarku. Tetapi "Mr Happy", julukan "adik" kecilku ini (kadang-kadang besar juga sih) tidak mau tahu, menggeliat dan mulai mengeras di dalam celanaku. Apalagi benda empuk di dada Wulan menghimpit tubuhku. Bisa gawat nih, "Mr Happy" on line..! Gelisah dan segera ingin keluar dari sarangnya.Wulan semakin erat memelukku. Kucoba mencium dahinya perlahan. Dia diam saja. Cium pipinya, dia masih diam juga. Kucoba meraih bibirnya yang mungil dan mengulumnya, Wulan membalas perlahan. Wah, habis sudah iman yang kumiliki..! Kulumat bibirnya dengan ganas hingga dia gelagapan dan kewalahan. Ketika bibirku meluncur ke lehernya, Wulan merintih tertahan. Tanganku yang sigapdan terlatih tidak tinggal diam, mulai menyusup dari belakang t-shirt-nya, mengusap punggungnya yang halus dan mencari kaitan BH-nya. Lepas..! Mulai perlahan kuangkat t-shirt biru mudanya hinga terlepas berikut BH-nya, dan terlihatlah buah dadanya yang indah itu. Keadaan putingnya masih ranum sekali.

Setelah puas menjelajah daerah leher dengan diiringi rintihan lembut Wulan, mulutku mulai menelusuri gundukan lembut itu. Wulan melenguh lirih, tangannya mencoba menahan kepalaku, namun dia tidak menolaknya. Berputar diantara lereng buah dadanya, mulai mulutku mendaki mencariputingnya. Bersamaan desahan panjangnya, Wulan meremas rambut kepalaku ketika putingnya terkulum oleh bibirku dan mulai kujilati. Dengan nikmat sekali aku berpindah dari puting yang satu ke puting yang lainnya. Mulai mengeras juga ketika jariku turut mengurut-urutnya.

Perlahan tubuhnya kurebahkan di atas kasur dan tanganku mulai mengusap-usap pahanya yang mulus dan licin ke atas sambil mengangkat rok mininya. Masih dengan mulut di buah dadanya, tanganku telah mencapai pangkal pahanya. Perlahan kucoba merenggangkannya dengan jariku, dan mulai menyusupkan jariku diantara celana dalamnya. Hangat sekali..! Bunyi gemerisik perlahan terdengar ketika jari-jariku menyentuh rambut-rambut lembut di daerah tersebut dan mulai mencari lubang "Miss Pussy" (julukan kemaluannya).

Wulan merintih memelas sekali ketika jariku mengusap-usapnya perlahan dan teratur. Lembab danhangat serta sedikit lekat kurasakan dijariku. Kepalaku menggeser ke arah bawah pusarnya hingga kini berhadapan dengan celana dalamnya. Perlahan kutarik ke bawah dengan sedikit mengangkat pantatnya dan lepas juga. Kurenggangkan pahanya dan kedekatkan kepalaku. Tangan Wulan refleks berusaha menahanku.
"Jangan Tom..!" Wulan berusaha menarik kepalaku, tapi percuma saja sebab lidahku telah menjilati pangkal celah "Miss Pussy"-nya.
Wulan menggeliat-geliat tidak menentu. Namun tangannya tetap memegangi kepalaku yang ada di pangkal pahanya.

Lama-kelamaan, mungkin karena merasa nikmat atau geli atau entah apa, kini malah Wulan sedikit mendesakkan kepalaku di belantara rambut "Miss Pussy"-nya sambil merenggangkan pahanya agak lebar. Jilatanku semakin menjadi-jadi dan rintihan-rintihan Wulan semakin keras. Kini tangannya tidak menahanku lagi, hanya meremas-remas rambut kepalaku saja. Bahkan pinggulnya kini turut bergoyang lembut mengikuti tiap jilatanku pada bibir "Miss Pussy"-nya. Suaranya yang memelas dan tertahan semakin mengeraskan "Mr Happy"-ku, yang dari tadi tidak terurus sama sekali.

Sesaat kulepaskan pakaianku sendiri, "Mr Happy" melompat keluar dengan perkasanya, mengacung dengan urat-uratnya yang dahsyat. Aku merayap diantara tubuh Wulan yang telentang, kuhadapkan "Mr Happy" di wajahnya yang imut. Mata Wulan nanar melihat keperkasaannya. Kutuntuntangannya untuk memegangnya. Matanya terpejam ketika jari lentiknya menggenggam batang leher"Mr Happy"-ku. Kusorongkan perlahan kepala "Mr Happy" pada mulut mungilnya.
"Isap sayang.., coba diisap..!"
Bibir mungilnya terbuka perlahan mencoba mengulum kepala "Mr Happy". Kewalahan juga Wulan untuk menguasai besarnya kepala "Mr Happy"-ku yang sudah coklat kememerahan itu.
"Isap sekarang.." pintaku lembut.

Dengan mata masih terpejam, Wulan menghisapnya. Setiap hisapannya membuat urat-urat leher kemaluanku itu berdenyut. Kudorong agak dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya. Wulan gelagapan hingga air liurnya keluar dan menimbulkan suara berkecipak. Perlahan kumaju-mundurkan batang kemaluanku. Semakin lama semakin dalam. 2/3 dari batang kemaluanku kubenamkan dalam mulut mungilnya.

Lama kubiarkan Wulan menghisap-hisapnya. Pemandangan itu membuatku semakin bergairah saja. Bibirnya yang lembut bergesekan dengan kulit kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Ketika kucabut dari mulutnya, terlihat Wulan mencoba mengambil nafas dengan terengah-engah. Kusambar mulutnya yang mungil dengan mulutku. Agak lama kami saling mengulum, namun perlahan kembali kurenggangkan pahanya yang putih hingga terbuka lebar. Terlihat kembali "Miss Pussy"-nya yang kemerahan diantara kilauan rambut-rambut halusnya.

Kini kuarahkan "Mr Happy" di bibir "Miss Pussy" yang lembab berair. Kudesakkan sedikit hingga kepala "Mr Happy" ditelah habis oleh "Miss Pussy".
"Sakit ngga Tom..?" tanya Wulan disela rintihannya.
"Sedikit sayang.. hanya sedikit.." jawabku menghibur, sebab konsentrasiku berada pada acara utama yang akan kami lakukan.

Dengan satu dorongan mantap dariku dan diiringi rintihan kenikmatan yang keras, Wulan menerima seluruh panjang "Mr Happy"-ku. Wulan meremas rambut kepalaku dengan keras. Kupeluk tubuhnya yang berkeringat dan kurasakan getaran yang hebat padanya. Kubiarkan beberapa saat "Mr Happy" di dalam lumatan "Miss Pussy"-nya. Denyutan lembut namun kuat sangat terasa olehku pada tiap urat kemaluanku.
"Memang masih perawan si Wulan ini," pikirku.

Perlahan kutarik batang "Mr Happy"-ku. Gesekan nikmat ini membuat Wulan merintih dengan kepala mendongak ke atas. Giginya mengigit bibirnya sendiri, menahan sesuatu. Kubenamkan kembali batang kemaluanku ke dalam kehangatan kemaluannya. Wulan kembali mengeluarkan desisan menggairahkan. Semakin lama gesekan batang kemaluanku kupercepat, mencoba membuat Wulan semakin histeris dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas terdengar. Suara lengguhan Wulan yang menggairahkan dan dengusan nafas membara dariku, menimbulkan suara berkecipak diantara pangkal paha kami berdua. Gesekan Nikmat disertai hisapan berdenyut "Miss Pussy" milik Wulan yang hangat membuat batang "Mr Happy"-ku menggila. Bibirku yang bernafsu sesekali menghisap puting mungil buah dada Wulan yang menegang.

"Tom.. ach.. aku.." desis Wulan.
Aku sadar dia akan mencapai klimaksnya. Kemaluanku semakin ganas kubenamkan di liang kehangatannya. Dan.., pinggangku terasa bergetar keras, ada sesuatu yang hendak terlontar. Entah bagaimana aku semakin menggila, hingga pinggang Wulan terguncang-guncang hebat.

Dengan buah dada Wulan yang terayun-ayun disetiap desakan kemaluanku pada "Miss Pussy"-nya, Wulan memekik dengan mata setengah terbuka. Nafas kami semakin memburu. Dan akhirnya, Wulan memekik panjang sambil memeluk pinggangku, hingga "Mr Happy" amblas sedalam-dalamnya. Disertai muntahan "Lava" dari mulut "Mr Happy"-ku, kami mengejang beberapa saat hingga akhirnya aku mendarat di atas tubuh Wulan yang puting mungilnya masih mengeras.

Permainan kami sungguh pengalaman yang terindah buat kami berdua. Wulan merasakan kepuasan yang belum pernah dirasakannya seumur hidupnya bersamaku, setelah pemainan itu Wulan berkata kalau dia tidak menyesali perbuatannya dan keperawanannya memang pasrah ingin dia serahkan kepadaku. Tetapi akhirnya pengalaman itu hanya menjadi kenangan bagi kami berdua. Wulan menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya di kotanya, sedangkan cintaku bersama Diah hilang karena perbedaan pandangan hidup. Hingga kini aku masih sendiri. Ditelan kesibukan dengan bisnis komputerku yang semakin lama semakin menyita waktuku.

TAMAT

Tubuh Mulus Mawar AFI
























ABG Binal Bertatto





Ayam Kampus Bertubuh Montok







Tante Muda lagi senam



Cerita Panas

Model Seksi

More Article »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. IndoHoi - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger