Posting Terbaru :

Ayam Kampus Cantik Bertubuh Super Bahenol

Written By detikberita.com on Rabu, 29 Februari 2012 | 14.59






Cewek Hypersex Butuh Kehangatan



Rahma Model Seksi Berpose Menggoda





Ayam Kampus Cantik Foto Bugil






Tips Agar Ereksi Bertahan Lama


Performa seorang pria diatas ranjang tidak hanya tergantung pada kebugaran fisik, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pikiran dan sikap mental. Seperti halnya fisik yang dapat dilatih agar selalu bugar, pikiran/ emosi juga dapat dilatih agar seorang pria bisa mempertahankan ereksi dalam waktu yang lama.

Menurut Graham Masterton dalam bukunya, Wild In Bed Together, kamampuan seks ditentukan 10 persen oleh kemampuan fisik, 20 persen oleh pengalaman dan pengetahuan, dan 60 persen oleh kontrol pikiran. Dapat dilihat ternyata kemampuan atau performa seks seorang pria lebih dipengaruhi oleh faktor psikis.

Dengan kata lain jika seorang pria dapat mengontrol pikirannya/ emosinya sehingga memiliki konsentrasi yang baik maka dia akan dapat dengan mudah mengalami ereksi dan dapat mempertahankan ereksi lebih lama, dan akhirnya akan memiliki kemampuan seksual yang baik.

Beberapa hal yang harus diperhatikan agar seorang pria memiliki kontrol emosi yang baik agar mampu mengontrol ereksi saat akan melakukan hubungan seks adalah :

1. Janganlah gugup
Apabila Anda akan bercinta/berhubungan badan, janganlah terlalu mengkhawatirkan diri Anda apakah nanti bisa ereksi atau tidak. Sikap ini sangat penting karena semakin Anda mengkhawatirkan ereksi maka Anda akan semakin susah ereksi. Perlu juga Anda ketahui bahwa seorang pria tidak harus selalu bisa ereksi, kadang seorang pria tidak bisa ereksi dan ini merupakan hal yang wajar, dan Anda tidak perlu mengkhawatirkannya!!!. Ingatlah, pasangan Anda (wanita) sebetulnya paham bahwa pria tak selalu bisa ereksi. Mereka hanya tidak enak dengan pria yang selalu tak bisa ereksi.

2. Jangan pikirkan ereksi saja
Saat bercinta jangan selalu memikirkan tentang ereksi, lebih baik pikirkan saja bagaimana caranya memuaskan pasangan. Misalnya, bagaimana memberikan rangsangan pada daerah erotis pasangan Anda atau berikan siDia bisikan yang mesra atau sesekali ciumlah bibirnya dengan penuh nafsu. Semakin Anda memikirkan ereksi maka burung Anda bisa loyo lagi!!!

3. Ajak pasangan untuk membantu
JIka Anda mengalami kesulitan ereksi jangan terburu-buru merasa gagal dan bersalah, Anda tidak perlu meminta maaf. Hal yang seharusnya Anda lakukan adalah meminta pasangan wanita Anda untuk memberikan rangsangan agar Anda bisa ereksi. Mintalah pada pasangan Anda untuk memberikan rangsangan misalnya dengan tangannya atau dengan seks oral. Katakan pada diri Anda bahwa hal tersebut memang tugas pasangan Anda untuk membuat penis Anda ereksi, toh jika ereksinya bagus siDia juga akan menikmatinya?!

4. Jangan terburu-buru
Setelah Anda berhasil ereksi, janganlah terburu-buru melakukan penetrasi karena berpikir mumpung selagi ereksi agar supaya jangan lemas lagi. Cara ini malah hanya menambah kecemasan dan meningkatkan peluang Anda untuk lemas lagi.Jadi lakukanlah penetrasi ketika Anda betul-betul sudah siap dan pastikan emosi Anda sudah terkontrol. Perlu juga Anda ketahui jika selalu terburu-buru melakukan hubungan seksual maka lama-kelamaan Anda akan mengalami ejakulasi dini.

Jadi untuk mendapatkan kemampuan seks yang hebat Anda harus memiliki ereksi yang bagus dan bisa bertahan lama. Ereksi yang bagus dan bertahan lama akan Anda dapatkan jika Anda dapat mengontrol pikiran dengan baik dan hilangkan semua kekhawatiran Anda. Selamat mencoba tips ini semoga pasangan Anda semakin menyayangi Anda.
http://zonadewasa.blogspot.com

Ayam Kampus Penggoda Nafsu



[Cerita Panas] Kakak Temanku yang Binal

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman pertamaku saat kehilangan keperjakaanku ketika baru selesai semester 1 kuliah. Awalnya begini, aku dan 3 orang sahabatku Steven, Erwin dan Wan Fu sudah akrab sejak kelas 1 SMA. Ketika kuliah hanya tinggal aku & Steven yang sekampus, Erwin dan Wan Fu telah berpisah, tapi kami masih sering kumpul bareng dan main bersama.

Pada hari itu kuliah semester awal telah kami selesaikan. Kami berencana untuk main ke villa milik Steven di Puncak. Rencana ini kami buat cukup mendadak, 2 hari sebelum keberangkatan, sehingga aku & Steven hanya sempat menghubungi Erwin, telepon di rumah Wan Fu sepertinya sedang rusak karena tidak nyambung-nyambung. Berhubung rumahnya jauh maka besoknya, sehari sebelum berangkat kami bertiga dengan mobilnya Steven pergi ke rumahnya memberitahu sekalian membeli keperluan besok.

Sesampai di sana, ternyata di rumah hanya ada kakaknya, Mei Fang yang membukakan pintu untuk kami. Ci Mei Fang orangnya sangat cantik, rambutnya sebahu lebih, wajah oval, kulit putih, tubuh jangkung seksi hampir 170 cm dan payudaranya itu lho, benar-benar aduhai, mungkin 35B. Mungkin pembaca tahu aktris top Jepang, Noriko Sakai, hampir mirip dialah Ci Mei Fang. Waktu itu umurnya 24 tahun, kuliah S2. Ketika menyambut kami, dia memakai kaos hitam tanpa lengan dan celana pendek, sehingga makin terlihat keindahan tubuhnya.

Di rumah itu hanya dia sendirian, Wan Fu dan orang tuanya sedang mengikuti undangan di luar kota, besok sore baru pulang.
“Kok Cici nggak ikut, kan boring di rumah sedirian, Ci?” tanya Erwin.
“Ahh, Cici kurang suka ikut pesta-pesta kayak gituan, terlalu banyak basa-basi, lagian banyak godaan makanan enak, Cici takut gendut nih.” jawabnya ramah.
“Ngapain aja Ci sendirian gini, nggak takut malamnya, perlu kita temenin nggak?” kataku bercanda.
Tapi malah dia jawab, “Bener nih mau temenin Cici, ya udah kalo gitu masuk aja, temenin Cici ngobrol, sepi nih.”
Kamipun agak heran mendengar jawaban itu, setelah saling pandang sejenak kami akhirnya setuju. Steven memarkir mobilnya ke pekarangan.

Tiba di ruang tamu, Ci Mei Fang menyuguhkan minum & snack untuk kami. Dia juga menawarkan rokok, tapi hanya Steven yang menerima, yang lain tidak merokok. Ci Mei Fang menyulut rokoknya dan mulai membuka obrolan. Ternyata orangnya ramah dan enak diajak ngomong sampai obrolan-obrolan yang agak nyerempet. Sambil nonton kami ngobrol dan bercanda panjang lebar.
Di tengah obrolan Erwin bertanya, “Pernah nggak, Cici nonton film BF?”
Dijawabnya, “Pernah, tapi jarang.. Oh iya, Cici baru ingat, 2 hari lalu papa pinjam VCD kayak gitu, mau liat nggak kalian, Cici tau kok tempat simpannya.”
Aku berpikir, “Gile nih cewek, nggak malu-malu banget ngomong gitu sama cowok!”
Ditawarin begitu ya kami iya-iya aja, siapa sih yang nggak mau. VCD dinyalakan, adegan-adegan di film membuat ruang tamu yang luas itu hening karena semua terpaku pada TV.

Kira-kira 1 jam kurang film itu berakhir.
“Rame ya Ci filmnya, nontonnya serius amat tadi”, kata Steven.
Ci Mei Fang berkata, “Kalian bertiga pernah nggak melakukan kayak tadi?”
Kami semua menggeleng, “Belum Ci, emang Cici pernah?” tanyaku.
Bukannya menjawab, Ci Mei Fang malah memanggilku duduk di sebelah kirinya, menyuruh Steven yang sejak tadi di sebelah kanannya agar lebih mendekat, dan Erwin disuruh duduk jongkok di depannya.
Setelah kami mengelilinginya dia berkata, “Mau nggak kalian Cici ajarin supaya jadi pria dewasa?”
“Hah, maksud Cici apa?” tanya Erwin pura-pura tidak mengerti.
“Begini maksud Cici”, katanya sambil meraih tanganku & Steven lalu ditumpangkan ke kedua payudaranya. Aku kaget sekali waktu itu.
“Ahh, jangan gitu Ci, malu, Cici kan udah punya tunangan”, kataku pelan.
“Nggak apa-apa kok ini cuma pelajaran bukan cinta, tunangan Cici orangnya liberal, dia juga pernah main dengan perempuan lain, yang penting kita berdua saling mengerti, seks bukan berarti cinta kan”, jawabnya.
Dia juga meraih tangan Erwin dan meyuruhnya meraba-raba kemaluannya.

Ternyata Mei Fang tidak memakai BH karena waktu kuraba buah dadanya, aku dapat merasakan puting susunya yang menonjol. Sekarang Erwin menarik lepas celana pendek Mei Fang dan aku membuka kaosnya, jadi sekarang Mei Fang hanya dibalut CD putihnya yang tipis, terlihat jelas bulu-bulu hitamnya yang tidak terlalu lebat. Payudaranya yang besar dan padat serta putingnya yang kecoklatan itu membuat nafsuku bangkit, tanpa diperintah lagi kukulum puting kirinya, sementara puting kanannya dikulum Steven, Erwin membuka lebar paha Mei Fang dan mengelus-elus belahan di tengahnya yang masih tertutup CD itu.

Lidahku mulai naik ke lehernya, pipinya dan akhirnya aku beradu lidah dengannya, permainan lidahnya benar-benar hebat, sampai sesak nafasku dibuatnya, dia juga mulai horny, kurasakan dari nafasnya yang kacau. Sementara tangannya membuka reitsleting celanaku lalu masuk ke celana dalamku, batang kemaluanku yang sudah tegang sejak tadi seakan-akan mau meledak saja begitu tangannya mulai mengocoknya. Steven yang duduk di sebelah kanannya masih mengisap payudaranya dan tangannya masuk ke dalam CD Mei Fang sehingga sekarang kemaluan Mei Fang sedang dimainkan oleh Erwin dan Steven, CD-nya juga sudah mulai basah. “Ahhh.. kalian hebat sekali, padahal kalian bilang belum pernah melakukannya.. uhhh..!”

Sekarang dia mengeluarkan batang kejantananku dan menjilatinya, Steven melepas CD Mei Fang sehingga sekarang dia sudah polos sama sekali. “Kalian juga buka baju dong, masa cuma Cici sendiri yang bugil kan nggak enak.” Kami pun melepas baju, mula-mula sih memang agak risih karena baru pertama kali bugil di depan cewek, tapi lama-lama biasa saja. Setelah menyingkirkan meja ruang tamu, Mei Fang berbaring telentang di permadani di ruang itu. Erwin yang belum menikmati payudaranya mengulum benda kenyal itu sedangkan Mei Fang sendiri kini memainkan biji peler Steven dengan mulutnya.

Kini giliranku menjilati kemaluan Mei Fang, cairan yang sudah membasahi liang kewanitaannya itu kujilati sampai bersih, lalu lidahku mulai menjelajahi daerah itu, kujilat klistorisnya, dan kulihat juga daging kecil di tengahnya, kumain-mainkan benda itu dengan jariku. Ulahku membuatnya berkelejotan, “Ohhh, jangan gitu ah, Her, geli nih.. uhhh..!” Tanpa mempedulikannya aku terus melakukannya. “Aduh… Her, jahat kamu ah, ohhh.. ohhh.. geli nih.. gulppp.. emhh!” Erangannya mendadak terhenti karena Steven memasukkan kemaluannya ke mulut Mei Fang, sehingga hanya terdengar suara, “Emmhm.. emhh”, saja.

Sebelum memuntahkan isi kemaluannya, Steven melepaskan kuluman Mei Fang, “Jangan Ci, jangan dikeluarin sekarang nanti aja biar lebih seru”, kata Steven. Lalu Mei Fang berkata, “Ahh.. Cici udah nggak tahan lagi, cepat tusuk Cici, jangan cuma jilat-jilat aja dong..”. Aku yang berada di dekat liang senggamanya langsung mengambil inisiatif, kunaikkan kedua kaki Mei Fang ke bahuku seperti gaya di film tadi, perlahan-lahan lalu kumasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya. Dengan lancar kuterobos lubang itu karena Mei Fang sudah tidak perawan dan juga tidak terlalu ketat lagi. “Cici ini pasti orangnya termasuk gila seks nih, masa masih 24 tahun udah nggak sempit lagi”, kataku dalam hati.

Selama beberapa waktu kusetubuhi dia sampai akhirnya aku merasa ada cairan hangat keluar dari sana. Tubuh Mei Fang menegang menekuk ke atas, tangannya meremas rambut Erwin yang sedang menjilati payudaranya, pertanda dia sudah orgasme. Dia melepas kulumannya pada batang kemaluan Steven disertai erangan panjang “Ooohh.. hebat kamu Her, hebat.. uhhh!”

Aku benar-benar lelah setelah menyemburkan maniku di liang kewanitaannya. Aku beristirahat sebentar dan membiarkan kedua temanku tetap bermain dengan Mei Fang. Kali ini Steven melakukan doggy style, batang kemaluannya dimasukkan ke pantat Mei Fang, sedangkan Erwin yang berada di bawahnya memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Mei Fang. Mei Fang kini sedang ditusuk 2 senjata, badannya bergerak maju mundur mengikuti gerakan kedua temanku itu. “Ahhh.. yaa.. terus lebih dalam lagi.. uhhh.. uhhh.. kalian pintar baru pertama main sudah sehebat ini.. ahhh!” Seluruh ruang tamu itu dipenuhi suara erangan Ci Mei Fang.

Sesaat kemudian Steven melepas batang kemaluannya dan berpindah ke depan wajah Mei Fang. “Ci cepet buka mulut nih, gua mau keluar nih”, dan, “Croot…” sperma Steven membasahi mulut mungil Mei Fang. Dia menelan semuanya dan membersihkan yang tertinggal di bibirnya, belum itu saja, dengan cepat diraihnya batang kemaluan Steven yang masih berlepotan itu lalu dikulum dan dijilati sampai bersih kembali. “Aduh Cici ganas banget sih, emangnya rasanya enak gitu Ci, sampe nafsu gitu?” tanya Steven. Tanpa menjawab Mei Fang terus mengulum batang kemaluan itu dengan rakusnya seperti binatang kelaparan. Sementara itu Erwin yang berada di bawahnya pun sudah ejakulasi dan dia membuang maninya di liang kewanitaan Mei Fang. Setelah itu tubuh Mei Fang terkulai lemas di atas Erwin dengan nafas terengah-engah, rupanya dia baru mengalami orgasme hebat.

Aku yang sudah memulihkan tenaga mengatur posisi Mei Fang dan menyelipkan bantal kursi agar Mei Fang menyandarkan kepalanya. “Her, kamu mau bikin posisi apa lagi sekarang?” tanyanya. Lantas aku berlutut di tengah badannya dan kujepit batang kemaluanku di antara payudara padat itu. Aku mulai mengocok di daerah itu dan Steven sedang menikmati liang kewanitaannya, dia merentangkan kedua paha mulus itu dan menancapkan batang kemaluannya dalam-dalam sementara itu juga Mei Fang sedang mengulum batang kemaluan Erwin di sampingnya.

Dalam waktu kira-kira 15 menit akhirnya kusiram wajah Mei Fang dengan maniku, ditambah lagi Erwin pun turut menyiramnya di mulut Mei Fang, tidak lama setelah itu Steven ejakulasi di payudara Mei Fang. Saat itu Mei Fang benar-benar basah kuyup oleh peluh dan sperma, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa dari 3 laki-laki sekaligus. Mei Fang menyeka sperma yang membasahi dada dan wajahnya dengan jarinya lalu dijilatinya dengan rakus. Aku berkata, “Ihhh, Cici kok seneng banget sih minum sperma, rasanya enak banget ya Ci?” tanyaku mesra. “Yaaa.. rasanya kayak kamu minum cairan cinta Cici aja kayak gitulah kira-kira?” jawabnya.

Tubuhku benar-benar lelah setelah bercinta dengannya, mungkin karena waktu itu masih amatiran. Jam 9 malam setelah istirahat dan mandi di sana baru kami pamitan pulang, sebelumnya Ci Mei Fang mentraktir kami di sebuah kafe dekat daerah itu. Dia menyuruh merahasiakan hal ini pada siapapun termasuk Wan Fu, dia juga bercerita pada kami bahwa waktu SMA dia adalah anak alim & prestasinya menonjol, namun sejak putus dengan pacar pertamanya 2 tahun yang lalu dia sering bermain gila dengan berbagai laki-laki teman kuliahnya.

Hari itu adalah saat pertama dan terakhirku bercinta dengannya karena hari-hari selanjutnya ada Wan Fu, sehingga dia bersikap cuek bebek terhadap kami. Dan 1 tahun kemudian, Mei Fang pergi ke Canada dilamar tunangannya yang sudah bekerja tetap dan menjadi warga negara sana. Aku selalu mengingatnya karena bagiku dia adalah pengalaman pertamaku dan guru seks-ku.

TAMAT

Tante Girang Berpose Sebelum Main



[Cerita Panas] Hari-hari Kelabu

Written By detikberita.com on Selasa, 28 Februari 2012 | 22.59

Aku tidak menduga sebelumnya jika hari itu perbuatan laknat tersebut menimpa diriku. Bahkan siapa yang menyangka bahwa kerusuhan itu sampai melanda tempat tinggalku di apartemen yang tergolong baru, MB, di Jakarta Utara.

Pagi itu, seperti pukul 8.00, seperti biasa cerah, tak ada tanda-tanda akan terjadi kerusuhan. Tapi suasana di Jakarta sudah sedikit mencekam. Apalagi setelah aku ditelepon oleh temanku di daerah Jembatan Lima malamnya, bahwa saat itu di daerahnya terjadi kekacauan. Beberapa toko mulai dijarah dan dibakar termasuk toko kertas milik keluarganya.

Hari itu, oleh karena aku kuliah di kampus yang berdampingan dengan kampus Trisakti, sehingga untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, kampusku diliburkan hingga suasana normal kembali. Sementara Papa masuk kerja seperti biasa, meskipun sempat ketar-ketir hatinya waktu berangkat.

Sambil tidur-tiduran di tempat tidur, kusetel radio favoritku, Sonora. Ternyata laporan pandangan mata reporter radio tersebut membuat hatiku semakin tidak tenang. Apalagi aku tinggal hanya berdua dengan Mama di lantai 10 apartemen ini. Aku adalah anak tunggal. Reporter itu mengabarkan bahwa saat itu, massa mulai membanjiri seputar Harmoni. Jalan sekitarnya, Jl. Suryopranoto, Jl. Majapahit, Jl. Djuanda/Veteran, Jl. Gadjah Mada, dan Jl. Hayam Wuruk diblokir. Suasana mulai panas.

“Ma.. Mama.. Sini, Ma”, aku memanggil-manggil Mama yang sedari tadi nonton televisi.
“Ada apa, Lin.”
“Ma, suasana Jakarta tambah gawat. Tuh Mama dengar sendiri aja di radio. Papa gimana tuh, Ma?” Aku menguatirkan keselamatan Papa yang bekerja di daerah Jl. Sudirman. Demikian pula dengan Mama.

Setelah itu aku kembali menyimak radio Sonora yang biasanya selalu memutar lagu-lagu yang enak didengar kadang-kadang diselingi beberapa informasi penting, tapi hari itu sebaliknya, lebih banyak informasi liputan pandangan matanya, sedangkan lagu-lagunya hanya satu dua saja.

Sekitar pukul 8.45, dikabarkan oleh radio tersebut, bahwa situasi di sekitar kantor radio tersebut di daerah Kota, sudah semakin gawat. Bahkan asap sudah mulai mengepul di beberapa tempat. Tandanya sudah ada beberapa pembakaran oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Beberapa menit kemudian telepon di meja kecil di samping tempat tidurku berdering. Kuangkat gagang telepon.
“Linda?”
“Yes.”
“Lin, ini Evy. Di daerah gue gawat, Lin. Ruko-ruko udah mulai dijarah. Malah ada lagi yang dibakar.”
Ternyata itu telepon dari Evy, sahabat karibku yang tinggal di daerah Daan Mogot yang memang sedang kacau terus dari kemarin siang.

Pukul sembilan, telepon berdering lagi. Kali ini pacarku, Hendri, yang tinggal di daerah Pluit mengabarkan bahwa massa mulai bergerak di daerah tersebut. Sebagian melakukan perusakan dan pembakaran di situ, dan sebagian lagi bergerak ke arah Timur. Ya ampun! Celaka. Tempat tinggalku berada di sebelah Timur tidak jauh dari Pluit. Jantungku berdegup-degup kencang. Aku takut jika massa bertindak macam-macam di daerah tempat tinggalku itu. Ah, tapi hatiku sedikit tenang mengingat penjagaan keamanan di apartemen tempat tinggalku ini yang cukup ketat 24 jam. Tidak mungkin ada yang masuk sembarangan.

Lebih kurang pukul 9.15….
“Tok tok tok.” Terdengar suara orang mengetuk pintu dengan cukup keras.
“Ma. Linda aja yang buka pintu”, aku langsung berlari kecil ke pintu dan membukanya.
Ternyata yang mengetuk pintu adalah tetanggaku, Joni. Ia langsung masuk ke dalam dengan tergopoh-gopoh.
“Ko.. Ko Joni. Ada apa?” tanyaku keheranan. Mama pun langsung menghampiri kami berdua.
“Lin, Ci Sui. Keadaan gawat. Apartemen ini sudah dikepung massa. Mereka beringas sekali. Tau nggak, mereka teriak-teriak apa? Bantai Cina! Habisin itu Babi! Dan masih banyak lagi.”
Aku dan Mama berpandangan dan langsung menjadi panik. Tapi Joni menenangkan kami.
“Lin, Ci Sui. Moga-mogaan mereka nggak naik ke sini. Lagian kan satpam di bawah banyak.”

Namun itu tidak bertahan lama. Tak lama kemudian ada teman yang tinggal di lantai 4 yang menelepon. Ia mengabarkan bahwa massa sudah mulai naik ke lantai 2 apartemen ini. Saat itu juga kami bertiga takut bercampur panik. Dalam hati kami berdoa agar kami selamat. Setelah itu kami bersiap-siap untuk mengungsi kalau keadaan di sini sudah tidak memungkinkan lagi. Joni pamitan ke sebelah untuk membereskan barang-barangnya juga, sedangkan aku dan Mama mengemas pakaian masing-masing ke dalam tas jinjing.

“Dok! Dok! Dok!” Aku terperanjat. Pintu diketok keras sekali.
“Lin! Jangan dibuka pintunya!” Mama berteriak dari kamarnya mencegahku membuka pintu.
Dengan perasaan mencekam dan takut sekali, aku kembali berdoa. Sejenak hatiku merasa tenang ketika ketokan di pintu itu sudah berhenti. Ternyata doaku dikabulkan. Namun.. “Gedubrak!” Pintu depan didobrak orang dan beberapa orang masuk ke dalam dengan wajah beringas. Beberapa di antaranya masuk ke kamar Mama dan yang lainnya ke kamarku. Karena pintu kamarku tidak kututup, mereka langsung masuk ke dalam dan berdiri mengelilingiku.

“Heh! Cewek Cina! Mau lari ke mana loe, Hah!” bentak salah seorang di antaranya.
“Jangan, Mas! Jangan!” Aku menjerit-jerit sejadi-jadinya meminta agar aku tidak diapa-apakan.
“Mas! Mas! Sejak kapan gua jadi kakak loe?! Lagian ngapain gua punya adik orang Cina kayak loe!” timpal yang lain.
“Eh, Bong. Babi Cina yang ini lumayan juga.”

Orang yang dipanggil “Bong” itu mendekatiku. Kulitnya yang hitam di tambah perawakannya yang tinggi besar (lebih tinggi dariku yang 171 cm) membuatku kecut. Apalagi ia mengitariku sambil memandangi tubuhku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
“Bener juga! Montok juga ini cewek satu!”

Tiba-tiba si “Bong” menyergapku dari belakang. Kedua tangannya meremas-remas kedua belah payudaraku. “Eeeihh! Jangaaann!” Aku semakin terteriak-teriak. Akan tetapi tak seorang pun dari mereka yang menggubrisku, bahkan mereka semua semakin dekat mengepungku. Sementara si “Bong” tangannya masih asyik memencet-mencet payudaraku sehingga membuatku merintih-rintih kesakitan. Aku meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Tapi tenaga si “Bong” ini jauh lebih kuat dariku. Menyadari usahaku ini sia-sia, akhirnya aku memasrahkan diri saja. Terserah mereka berbuat apa saja terhadap diriku. Asalkan saja nyawaku selamat.

Melihat aku yang sudah pasrah, salah seorang teman si “Bong” menyingkap rok dasterku ke atas. Matanya kulihat melotot menyaksikan pahaku yang putih dan mulus. Sempat kulihat pergerakan di selangkangannya. Tapi aku tak mampu lagi berbuat apa-apa. Kemudian ia bersama dengan temannya yang lain meraba-raba kedua belah pahaku itu. Sementara di atas, payudaraku terus digumuli oleh tangan si “Bong” dengan ganasnya. Dan.., “Sreek! Sreekk!” Dengan sekali tarikan keras, si Bong mencoba menyobek bagian atas daster yang kupakai. Awalnya susah memang, sebab dasterku ini memang terbuat dari bahan yang tidak mudah sobek. Namun akhirnya berkat bantuan temannya yang lain, dasterku ini terkoyak juga sampai ke perut. Tinggal menyisakan tubuh bagian atasku yang hampir telanjang dengan hanya ditutupi oleh BH saja. Melihat kedua payudaraku yang tidak begitu besar namun amat kurawat menyembul di balik BH yang kukenakan, si “Bong” dan teman-temannya kelihatan semakin bernafsu untuk menggagahiku.

Tak lama kemudian, si “Bong” melepaskan tali pengikat BH-ku, sehingga payudaraku yang menggantung dengan indahnya di dadaku terlihat bebas tanpa penutup apapun. Melihat pemandangan indah sejenak orang-orang yang mengepungku tertegun. Kumanfaatkan kebengongan mereka. Segera aku mencoba berlari ke arah pintu kamar. Tapi celaka, seseorang dari mereka langsung menangkap tanganku, lalu ditariknya dengan keras. Kemudian ia mendorongku dengan keras, sehingga membuatku jatuh tertelentang di kasur.

“Jangan! Jangan, Mas, Bang! Jangan perkosa saya! Nanti akan saya kasih uang!”
“Dasar Cina loe! Emangnya gue mau makan uang haram dari orang Cina!”
“Tau nggak! Karena loe orang Cina, jadi loe mesti diperkosa!”

Si “Bong” yang tampaknya seperti pemimpin mereka langsung menindih tubuhku. Ibu jari dan telunjuknya menjepit puting susuku dengan keras. Aku menjadi meringis menahan sakit dibuatnya. Sementara ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya.

“Heh, cewek. Loe kalo kagak mau nurut sama gua, ntar pentil loe ini gua potong. Mau loe jadi cewek kagak punya pentil!” Si “Bong” mengancam akan memotong puting susuku dengan pisau lipatnya jika aku tidak mau menuruti kemauannya. Akhirnya aku diam saja.

“Nah, begitu namanya jadi cewek yang manis. Dul! Celana dia!”
Temannya yang dipanggil dengan “Dul” itu memegang celana dalamku yang kemudian ditariknya turun ke bawah. Sementara itu si “Bong” memotong kain dasterku yang tersisa, sehingga tubuhku menjadi terpampang bebas seutuhnya. Dan tanpa mau membuang-buang waktu, si “Bong” langsung membuka reitsleting celananya dan mengeluarkan batang kemaluannya. Lalu ia menghampiriku dan kembali menindih tubuhku. Aku menjerit cukup keras ketika batang kemaluan si “Bong” amblas seluruhnya ke dalam liang kewanitaanku. Seraya mulutnya melumat payudara dan puting susuku. Ia terus memompa batang kemaluannya naik-turun di dalam kewanitaanku. Aku meronta-ronta menahan rasa sakit yang terhingga. Kewanitaanku yang masih perawan dan sempit itu dihajar begitu saja oleh batang kemaluan si “Bong”.

Akhirnya, si “Bong” dan teman-temannya yang berjumlah seluruhnya lima orang itu secara bergiliran mengagahiku. Rasa-rasanya aku seperti hampir pingsan akibat rasa lelah dan rasa sakit yang menjadi-jadi di selangkanganku. Namun begitu setiap aku kelihatan hampir tak sadarkan diri, orang yang sedang menggagahiku menampar pipiku dengan cukup keras untuk menyadarkanku kembali. Begitu seterusnya, hingga kelima orang itu berhasil memperkosaku dengan “sukses”.

Ternyata penderitaanku belum berakhir. Dengan tertatih-tatih aku diseret keluar ke koridor apartemen dalam keadaan bugil. Aku tidak mengetahui keadaan ibuku lagi. Yang kutahu hanya saat aku diseret keluar, kudengar ibuku menjerit-jerit kencang dari dalam kamarnya yang pintunya tertutup rapat. Dan astaga! Di koridor aku menjumpai Joni yang tergeletak babak belur di lantai sedang digebuki oleh empat orang. Aku juga tidak tahu apakah Joni masih hidup ataukah sudah tiada.

“Sur! Nih, gua serahin cewek ini buat jadi santapan loe!” Si “Bong” berteriak kepada salah orang pengeroyok Joni sambil mendorong tubuhku dengan keras.
Aku yang memang sudah lemas langsung terjerembab ke lantai koridor. Orang yang dipanggil “Sur” itu menarik tanganku dan menyuruhku berdiri. Dengan susah payah akhirnya aku berhasil berdiri juga. Setelah melihat sekujur tubuhku yang telanjang bulat, ia berteriak kepada temannya. “Weh, Den! Boleh juga ini cewek Cina! Kita kerjain die sekarang!”

Aku pun diseret kembali. Kali ini oleh si “Sur”, si “Den” dan dua orang temannya. Si “Den” membuka pintu tangga darurat. Tubuhku pun yang hampir tak berdaya diseret masuk ke dalam. Akhirnya aku dibaringkan tertelentang di anak tangga darurat, dan kembali aku digagahi. Kali ini oleh empat orang. Mereka bergantian memperkosaku. Akhirnya aku sudah tidak mengetahui lagi sudah berapa orang dari mereka yang telah menikmati tubuhku karena aku langsung tak sadarkan diri.

Hari ini adalah tepat dua tahun setelah hari naas itu. Bayangkan! Aku menjadi korban perkosaan oleh sembilan orang sekaligus! Mama, wanita separuh baya yang berusia 39 tahun, juga diperkosa oleh orang-orang biadab itu. Sementara itu, tetanggaku Joni ternyata menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah dirawat beberapa hari di RS. Atmajaya, Pluit.

Sejak saat itu sampai kini aku belum masuk kuliah. Rasa traumaku belum juga hilang. Beberapa orang teman kuliahku seringkali menjengukku yang kini untuk sementara tinggal di rumah saudaraku di Jatinegara. Tapi aku bukan Linda yang dulu. Aku sekarang adalah Linda yang lain. Sudah tidak ada lagi Linda yang bawel, Linda yang ceria. Yang tersisa sekarang hanyalah Linda yang pendiam dan Linda yang sering termenung! Entah, sampai kapan aku bisa melupakan semua kejadian pahit ini? Entahlah!

TAMAT

Marlin Taroreh Model Bertubuh Menggoda






ABG Berpose Menantang




Tante Ria Bugil Mandi di Sungai



Namanya Gina Siap Dieksekusi



Toketnya Seimut Orangnya







Cerita Panas

Model Seksi

More Article »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. IndoHoi - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger